Waktu kutanya apa kau benar mencintaiku, dengan yakin kau menjawab iya. Saat aku takut kau akan meninggalkanku, sambil tersenyum menenangkan kau mengusir segala ketakutan itu. Kau selalu tersenyum bahagia saat kita bersama, kau tak pernah absen menunjukkan betapa kau sayang padaku. Dan aku dengan mudahnya jatuh cinta semakin dalam padamu. Tapi, kini dengan mataku, aku melihatmu dengan yang l…
Mengapa cinta membuatku mencintaimu, ketika pada saat yang sama kau mencintai orang yang bukan aku? Ketika telah membuka hati, aku pun harus bersiap kehilangan lagi. Apakah setelah cinta memang harus selalu ada air mata dan luka hati? Kalau begitu, bagaimana jika kita bicarakan satu hal saja. Cinta. Tanpa ada yang lain setelahnya. Kita lihat ke mana arahnya bermuara.